![]() |
Sumber gambar: www.etsy.com |
Secara fisika kita mengetahui bahwa warna-warni cahaya didasarkan pada
panjang gelombangnya. Artinya sebuah warna cahaya itu mewakili panjang
gelombangnya. Sebagai contoh hasil disperse (penguraian) gelombang tampak
seperti warna-warna pada pelangi dimulai dari merah, jingga, kuning, hijau,
biru dan terakhir ungu. Dimanakah warna pink?
Tidak ada.
Jadi darimana warna pink berasal?
Ternyata warna pink, merah muda, magenta, fuchsia, atau apapunlah namanya terserah sukanya mau pakai yang
mana –sebenarnya adalah perpaduan antara cahaya merah dan ungu (cahaya dari
kedua ujung pelangi) dan otak kita menerjemahkannya menjadi satu warna. Merah
muda.
Jika kita mencoba membuat roda warna dari warna-warna cahaya pelangi,
maka kita akan menemukan celah antara warna merah dan unggu. Diantara itulah
seluruh panjang gelombang yang ada di alam semesta ini selain cahaya tampak
berada seperti gelombang radio, gelombang mikro, inframerah, ultraviolet,
sinar-x, sinar gamma, dan sebagainya. Tapi karena kita tidak dapat melihat
salah satu dari gelombang-gelombang tersebut, kita ganti kesemuanya itu dengan
warna pink.
Roda warna | Sumber: Youtube.com chanel Minute Physics |
3 komentar:
Di dunia ini ada 2 jenis warna dasar: warna additif yang berasal dari pemilahan spektrum cahaya dan warna subtraktif yang merupakan warna benda dan pewarna.
Jika seluruh warna pada warna additif (cahaya) dicampur akan menghasilkan warna putih. Jika seluruh warna subtraktif (pigmen) dicampur akan menghasilkan warna hitam pekat.
Bila kita mengenali warna pada layar CRT, LED, dll itulah warna additif. Bila kita mengenali warna pada cetakan printer, cat air, cat minyak, tinta, spidol dll itulah warna subtraktif. Pendapat saya ini umum dan standar di dunia grafis. Mungkin bisa mengecek laman ini: https://id.wikipedia.org/wiki/Warna_primer.
Pink adalah gabungan dari magenta yang tak pekat dan sedikit kuning, jika mengacu teori warna CMYK/subtraktif dalam dunia grafis.
Wah mas Agung bagus bahasannya.
Tapi saya membahasnya berdasarkan wujud real dari warna sendiri, atu kalo bahasa Wikipedia warna aditif. Tidak masalah jika atas pembagian Aditif dan substraktif.
Saya sendiri membahas secara fisika melalui pendekatan konsep optik. Dalam hal ini jelas berhubungan dengan cahaya. Dan warna (bahasa fisikanya spektrum) adalah manifestasi dari nilai energi (yg diwakili frekuensi) dari sebuah cahaya. Dengan kata lain warna sendiri itu berasal, atau mudahnya perwujudan dari cahaya.
Dan bagaimana dengan benda? Benda hanya memantulkan cahaya (warna) tertentu. Dalam cahaya putih, terkandung semua tingkat energi, atau warna, atau frekuensi gelombangnya. Dan ketika cahaya mengenai suatu benda, maka pada saat itu akan ada tingkat eneergi (warna) yang terserap, dan tingkat energi (warna yang dipantulkan). Tingkat energi yang diserap oleh benda tergantung dari karakteristik bendanya. Ada benda yang hanya menyerap warna merah, atau hanya memantulkan warna merah dan lainnya diserap.
Penjelasan ini akan lebih mudah jika kita sudah mempelajari tentang Efek Fotolistrik karya Albert Einstein yg mengantarkannya mendapat Nobel Fisika. Lebih bagus dipadu dengan konsep dualisme gelombang cahaya.
Sedangkat mengenai warna substraktif. Saya rasa itu hanya perubahan tingkat kemampuan benda untuk menyerap atau memantulkan tingkat energi gelombang cahaya. Coba aja bayangkan, bisakah kita melihat warna tanpa ada cahaya. Walaupun kita mencampuradukkan tinta magenta, dengan cyan, atau green. Kalau kita bisa melihat perubahan warnanya tanpa ada cahaya, saya akan percaya dengan konsep substraktif.
Maaf jika agak bingung, karna saya juga masih kuliah di Jurusan Pendidikan Fisika. :)
Oh ya, saya juga orang grafis. Tapi saya memaklumi dengan adanya konsep seperti itu. Karena beda bidang akan dibutuhkan penjelasan yang berbeda.
Tapi saya tidak akan mencampuradukkan mana konsep asli, atau konsep terapan.
Post a Comment